Menanti guncangan dahsyat di Tanah Jawa

REPORTED BY: Siti Dzakiyyah

Menanti guncangan dahsyat di Tanah Jawa ilustrasi bencana.

Di sepanjang tahun 2018, Indonesia dikejutkan oleh berbagai peningkatan aktivitas tektonik dan vulkanik. Di mulai dari bencana Erupsi Gunung Agung, Gunung Sinabung, gempa bumi Banten, Gempa Lombok, Tsunami Palu, dan Erupsi Gunung Krakatau yang menyebabkan Tsunami di Selat Sunda.

Berada di kawasan Cincin Api (Ring of Fire) memang membuat Indonesia tak berhenti dihantam bencana. Indonesia berada di jalur gempa teraktif di dunia karena dikelilingi oleh Cincin Api Pasifik dan berada di atas tiga tumbukan lempeng benua, yakni, Indo-Australia dari sebelah selatan, Eurasia dari utara, dan Pasifik dari timur. Interaksi lempeng-lempeng tersebut memengaruhi tatanan tektonik di daratan Indonesia yang memunculkan adanya sesar-sesar aktif di daratan maupun di lautan. Sekitar 90% dari gempa bumi yang terjadi dan 81% dari gempa bumi terbesar terjadi di sepanjang Cincin Api ini.

Pusat Studi Gempa Nasional (PuGeN) dalam buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017 merilis bahwa ada 295 sumber gempa bumi yang ditemukan di Indonesia, mulai dari Sumatra, Jawa-Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Pulau Jawa merupakan salah satu pulau di Indonesia yang padat penduduk dan juga merupakan zona subduksi Selat Sunda, dimana lebih dikenal dengan Sunda Megathrust. Zona ini merupakan sesar yang memiliki luasan sekitar 5.500 km dari Myanmar di utara, menuju ke barat daya wilayah Sumatra, dan berlanjut ke selatan Jawa dan Bali sebelum berakhir dekat Australia.

Sunda Megathrust adalah salah satu megathrust yang berada di batas lempeng konvergen dimana merupakan zona pertemuan antara Lempeng eurasia yang ditujam oleh Lempeng indo-ausralia. Ini adalah salah satu zona struktur paling aktif di Bumi, dan bertanggung jawab atas banyak gempa bumi besar, termasuk gempa bumi dan tsunami samudra hindia 2004 yang membunuh lebih dari 230.000 orang. Zona ini dibagi menjadi Andaman Megathrust, Sumatra Megathrust, dan Java Megathrust.

Jika merunut pada buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017, sumber kegempaan di selatan Jawa terbagi dalam tiga segmen, yaitu segmen Selat Sunda-Banten, segmen Jawa Barat dan segmen Jateng-Jatim. Berdasarkan hasil perhitungan, maksimum energi gempa yang mungkin dihasilkan oleh setiap segmen tersebut adalah M8.8 untuk segmen Selat Sunda-Banten, M8.8 untuk segmen Jawa Barat dan M8.9 untuk Jateng-Jatim.

Angka energi gempa (magnitudo) yang digambarkan sebelumnya masih terlokalisasi oleh segmentasi. Angka tersebut bisa saja menjadi lebih besar jika dua segmen atau lebih melepaskan energi gempa secara bersamaan. Kondisi ini pernah terjadi pada Gempa Tohoku 2011, lebih dari satu segmen melepaskan energi secara bersaamaan dan menghasilkan energi gempa mencapai M9.1.

Buku Indonesian’s Historical Earthquake yang dipublikasikan oleh Geoscience Australia menceritakan tentang beberapa kejadian gempa bumi yang merusak di masa lampau, khususnya di Pulau Jawa dan sekitarnya. Setidaknya ada delapan kejadian gempa yaitu tahun 1699 (Jawa dan Sumatra), 1780 (Jawa Barat dan Sumatra), 1815 (Jawa, Bali dan Lombok), 1820 (Jawa dan Flores), 1834 (Jawa Barat), 1840 (Jawa Tengah dan Timur), 1847 (Jawa Barat dan Tengah) dan 1867 (Jawa dan Bali). Catatan kejadian gempa bumi pada masa lalu memberikan pemahaman bahwa kejadian gempa bumi dapat berulang kembali. Hal ini dikarenakan perilaku gempa bumi dapat kembali melepaskan energi dalam rentang waktu puluhan atau ratusan tahun.

Meski demikian, Deputi Bidang Geofisika BMKG Muhammad Sadly saat wawancara khusus bersama Rimanews mengatakan bahwa hingga saat ini belum ada teknologi yang bisa memprediksi kapan terjadinya gempa. Bahkan, menurutnya, sekelas negara maju seperti Jepang pun belum dapat memprediksi kapan terjadinya gempa maupun Tsunami.

Rencana terburuk jika gempa mengguncang Tanah Jawa

Sementara itu, Pulau Jawa tercatat sebagai tingkat populasi terbesar di Indonesia. Pada tahun 2017, populasi di Pulau Jawa mencapai 149 juta jiwa, atau 57 persen dari total populasi Indonesia. Kondisi ini tentu menjadikan tingkat risiko yang tinggi jika terjadi gempa bumi, terlebih lagi jika diikuti oleh gelombang tsunami.

Tak hanya itu, Pulau Jawa juga memiliki Jakarta sebagai pusat ibu kota negara. Struktur bangunan yang padat serta gedung-gedung pencakar langit menjadi salah satu penambah faktor buruknya situasi yang akan terjadi jika gempa mengguncang tanah jawa.

Lebih lanjut, edukasi pemahaman mitigasi bencana di Indonesia juga sangat minim. Terlihat dari beberapa kasus bencana gempa dimana masyarakat panik saat mengevakuasi diri dan berlari ke arah jalan.

Tak bisa dipungkiri, Indonesia perlu berbenah dalam menghadapi bencana. Meski dalam keadaan pesta demokrasi, jangan lupakan bahwa kita berada di kawasan Cincin Api, di mana bahaya bencana alam bisa mengintai dimana saja dan kapan saja.

Rizal Ramli sebut mobil Esemka alat politik Jokowi
Rizal Ramli: Jokowi impor pangan ugal-ugalan
Pidato Prabowo disebut klise, BPN samakan Prabowo dengan Bung Karno
Amerika Serikat rugi Rp38 triliun
Sempat ditolak, Prabowo akhirnya shalat jumat
Kedengkian terhadap mantan picu impotensi
TKN: Jokowi sudah persiapkan jurus hadapi debat kedua
PSI minta kubu Prabowo klarifikasi soal tudingan Jokowi pakai konsultan asing
Kubu Jokowi nilai Prabowo cari panggung
TKN nilai tak masalah menteri bantu Jokowi susun materi debat
Simulasi Prabowo menang di 12 daerah dinilai hanya kipasan angin surga
Aktivis lingkungan nilai Jokowi komitmen kelola SDA untuk rakyat
Gubernur Enembe tak bersalah, warga Papua desak KPK minta maaf
PSI nilai manuver politik oposisi soal tudingan konsultan asing terlalu bodoh
Kubu Jokowi: Kemenangan di Jawa Barat jadi barometer suara nasional
Fetching news ...