Jokowi redam Hari Patah Hati Nasional

REPORTED BY: Fathor Rasi

Jokowi redam Hari Patah Hati Nasional

Orasi Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Dies Natalis ke-60 Universitas Padjajaran di Bandung, Jawa Barat menyinggung peran media sosial di era keterbukaan saat ini dengan beragam informasi yang menyebar begitu cepat dan massif. Untuk mencairkan suasana, Presiden mengawali orasinya dengan hal-hal ringan yang menjadi perbicangan di media sosial, yakni soal komplain netizen ke Jokowi terkait pernikahan artis kondang Raisa dan Laudya Cynthia Bella.

Pernikahan keduanya memang fenomenal, khususnya Raisa, tak heran bila muncul istilah "hari patah hati nasional jilid II " yang disuarakan netizen, terutama mereka yang berstatus jomblo. Bahkan, komplain pernikahan Raisa tidak hanya disinggung Presiden dalam orasinya tersebut, melainkan juga melalui keterangan tertulisnya, Senin (11/9).

Padahal sebelumnya juga ramai keluhan netizen soal tatapan penyanyi Raisa Andriana kepada Jokowi saat menghadiri acara Hari Musik Nasional di Istana Negara beberapa waktu lalu yang membuat netizen meleleh. Tatapan senang dan kagum dibalut senyum manis Raisa ke orang nomor satu itu mengundang rasa "cemburu" hingga membuat netizen baper. Misalnya cuitan "I want you to look at me like Raisa looks at Mr. President. (Aku ingin kamu menatapku seperti Raisa menatap Jokowi--RED)," pemilik akun @aMrazing.

Seakan ingin mengakhiri pilu para "jomblowan" dan "jomblowati", Presiden sama sekali tidak menyingggung soal curhatan atau pun maraknya meme ngenes netizen yang membanjiri pemberitaan media sosial terkait pernikahan Raisa Andriana dan Hamish Daud beberapa hari lalu, Minggu (3/9).

Bayangkan bila Presiden mengomentari curhatan sedih netizen soal tatapan Raisa padanya, bisa-bisa muncul "hari patah hati nasional jilid III" macam demo menentang Ahok itu.

Mungkin, Presiden tidak mau menambah luka hati mereka yang sudah dihantam badai "hari patah hati nasional" jilid I (saat Raisa menggelar tunangan) dan jilid II (pesta pernikahannya) sehingga tidak mengungkitnya.

Sebaliknya, Mantan Gubernur DKI itu mengungkit keluhan netizen soal pernikahan aset Indonesia pemilik suara emas itu yang resmi lepas ke tangan asing.

"Beberapa hari lalu ada yang komplain ke saya mengenai Raisa Andriana. Mereka bilang, satu lagi aset Indonesia lepas ke tangan asing. Saya dengar, suaminya orang Australia (dengan emoticon senyum lebar)," tulis Jokowi, Senin (11/9).

Presiden tidak hanya dikomplain soal lepasnya Raisa ke tangan orang Australia, namun juga menerima keluhan pernikahan Laudya Cynthia yang jatuh ke pelukan seorang pria Malaysia.    

"Belum saya jawab, muncul satu lagi. Katanya: Pak, Laudya Cynthia Bella diambil orang Malaysia. Haha .... Ini tentu hanya bercanda. Tapi media sosial memang telah mengubah pola komunikasi antara masyarakat dan pemimpin," ujar Jokowi senang.

Tawa Presiden itu seolah ingin melepas sejenak beban persoalan negara yang dipikulnya saat ini. Jokowi tampak senang mengomentari komplain ringan Netizen terkait lepasnya kedua publik figur itu ke tangan asing tanpa harus mengungkit-ungkit keluhan massal patah hati netizen.

Melalui orasi soal jatuhnya Raisa ke pelukan pria asal Australia itu, Presiden seakan menyelipkan pesan tersebunyi bagi netizen pengagum wanita bersuara emas itu, " Saudahlah..., Raisa sudah jatuh ke tangan asing, saatnya move on membangun bangsa. Kerja...kerja...kerja...!" 

Hindari fitnah di medsos

Presiden Jokowi mengungkapkan, hampir semua pemimpin dunia yang ia temui mengeluhkan perkembangan media sosial. Bahkan, mereka juga pun bertanya soal perkembangan media sosial.

"Semua mengeluhkan mengenai perkembangan media sosial. Ada yang bertanya: Presiden Jokowi, bagaimana media sosial di Indonesia? Saya jawab: Wah, kalau di Indonesia kejam sekali,” ujar mantan Wali Kota Solo.

Menurutnya, negara-negara saat ini memang bisa mengendalikan media mainstream, tapi tidak bisa mengendalikan media sosial. "Inilah keterbukaan yang sedang kita hadapi, dan kita semuanya harus siap," terangnya.

Perkembangan media sosial, lanjut dia, sanggup membuat lalu lintas informasi menjadi semakin lancar, namun ada kalanya dimanfaatkan untuk menebarkan fitnah, mencela, menjelekkan, menyalahkan, membuat berita bohong. Situasi ini, kata Presiden, sangat berbahaya bagi generasi muda dan masyarakat pada umumnya.

"Siapa yang paling siap dan bisa mengantisipasi perubahan itu? Ya perguruan tinggi dan universitas. Itulah yang selalu saya sampaikan setiap kali datang ke kampus-kampus, seperti kemarin di Dies Natalies ke-60 Universitas Padjadjaran di Bandung. Universitas harus mengantisipasi, harus menyiapkan sumberdaya-sumberdaya manusia kita untuk bersaing dan berkompetisi," pungkasnya.

Dua amalan utama di bulan Muharam
Menjadikan Indonesia kiblat maritim dunia
4 golongan yang dicintai Allah
Menyatukan Soksi Golkar dengan Munas
Sektor ini raup Rp1.500 triliun per tahun, Anda tertarik?
Fetching news ...