Tren positif kenaikan pajak

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Tren positif kenaikan pajak Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan realisasi penerimaan pajak hingga akhir Februari 2018 telah mencapai Rp153,4 triliun atau tumbuh 13,48 persen dari periode yang sama tahun 2017.

"Peningkatan penerimaan pajak menunjukkan terjadinya percepatan momentum kegiatan ekonomi yang sangat nyata," kata Sri Mulyani dalam jumpa pers realisasi APBN 2018 di Jakarta, Senin (13/03/2018).

Sri Mulyani mengatakan kondisi tersebut jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan realisasi penerimaan pajak pada periode sama tahun 2017 yang hanya tumbuh sebesar 8,6 persen.

Pertumbuhan positif hingga akhir Februari ini didukung oleh pertumbuhan penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) maupun Pajak Penghasilan (PPh) nonmigas masing-masing sebesar 18,02 persen dan 12,27 persen.

"Kinerja pertumbuhan penerimaan pajak ini merupakan yang tertinggi sejak 2015, sehingga menciptakan rekor baru pertumbuhan tertinggi dalam empat tahun terakhir," katanya.

Pertumbuhan penerimaan pajak terlihat dari realisasi PPN impor yang tumbuh 24,5 persen, PPh Pasal 21 tumbuh 17,15 persen, PPN dalam negeri tumbuh 16,15 persen, PPh Final tumbuh 12,64 persen, PPh Orang Pribadi tumbuh 10,58 persen dan PPh Badan tumbuh 7,74 persen.

Pertumbuhan ikut terlihat dari penerimaan PPN dalam negeri yang tumbuh sebesar 10 persen dibandingkan periode sama pada akhir Februari 2017, meski pajak ini bersifat sukarela.

Kinerja positif penerimaan juga tercermin dari pendapatan dari sektor perdagangan dan industri pengolahan yang tumbuh signfikan masing-masing sebesar 33,56 persen dan 13,25 persen.

Kinerja penerimaan dari dua sektor usaha utama yang tinggi ini tidak lepas dari peningkatan aktivitas impor pada awal 2018 yang nilainya tumbuh hingga mencapai 26,44 persen.

Sementara itu, membaiknya perekonomian global dan kenaikan harga komoditas telah mendorong peningkatan penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai, hingga pada akhir Februari 2018, tercatat telah mencapai Rp7,4 triliun atau tumbuh 16,51 persen.

Peneriman pajak bulan Januari

Pada bulan sebelumnya, telah mencapai Rp78,94 triliun atau tumbuh 11,17 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.

"Pertumbuhan ini merupakan yang tertinggi dan melanjutkan tren positif sejak 2015," kata Sri Mulyani di Jakarta, Pebruari lalu.

Sri Mulyani mengatakan realisasi penerimaan ini berasal dari pendapatan PPh non Migas sebesar Rp41,7 triliun, PPN dan PPnBM sebesar Rp32,3 triliun, PPh Migas sebesar Rp4,54 triliun dan pajak lainnya Rp480 miliar.

Pada Januari 2017, realisasi penerimaan dari PPh non Migas tercatat hanya mencapai Rp36,29 triliun, PPN dan PPnBM mencapai Rp29,52 triliun, PPh Migas mencapai Rp4,48 triliun dan pajak lainnya Rp420 miliar.

Dengan demikian, PPh non Migas tercatat telah tumbuh 14,9 persen, PPN dan PPnBM tumbuh 9,41 persen, PPh Migas tumbuh 1,24 persen dan pajak lainnya tumbuh 12,84 persen.

"Pertumbuhan pajak ini apabila tidak memperhitungkan penerimaan dari uang tebusan amnesti pajak pada Januari 2017, maka pertumbuhan pada Januari 2018 mencapai 11,88 persen," kata Sri Mulyani.

Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan PPh non Migas itu terjadi untuk PPh Pasal 21 yang tumbuh 16,09 persen, PPh Orang Pribadi yang tumbuh 33,18 persen serta PPh Badan yang tumbuh 43,66 persen.

Pertumbuhan ini lebih baik dari periode Januari 2017, karena PPh pasal 21 tercatat hanya tumbuh 5,12 persen, PPh Orang Pribadi hanya tumbuh 3,92 persen dan PPh Badan tumbuh negatif 43,36 persen.

"Pertumbuhan PPh non Migas ini didominasi oleh kontribusi PPh pasal 21, PPh Orang Pribadi dan PPh Badan seiring masih positifnya permintaan domestik," ujar Sri Mulyani.

Secara keseluruhan, Sri Mulyani memastikan pertumbuhan hingga dua digit di awal tahun memberikan optimisme awal dalam upaya merealisasikan target penerimaan pajak pada 2018.

Dalam kesempatan tersebut, Sri Mulyani juga memaparkan realiasi bea masuk yang telah mencapai Rp2,8 triliun, bea keluar mencapai Rp400 miliar dan cukai mencapai Rp400 miliar.

"Penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp3,5 triliun ini tumbuh 16,9 persen, yang didukung oleh membaiknya kinerja ekspor impor seiring dengan membaiknya perekonomian global dan harga komoditas," katanya.

Terdapat dua alasan yang menyebabkan penerimaan pajak tumbuh positif sebesar 11,17 persen pada Januari 2018. Pertama adalah karena tidak ada permintaan percepatan untuk pembayaran pajak dari Wajib Pajak Badan di Desember. Kedua, karena membaiknya kondisi perekonomian pada awal 2018.

Percepatan pembayaran pajak pada Desember menyebabkan pertumbuhan pajak pada Januari 2015 dan 2016 masing-masing tumbuh negatif sebesar 12,41 persen dan 4,43 persen.

Memulai usaha besar dari hal kecil
Tradisi perayaan lebaran yang jadi ancaman penerbangan internasional
Selepas lebaran, ini makanan yang paling dicari
Terimakasih ke Jokowi, Rizieq sudah luluh?
Alasan PDIP harus kuasai Bali
Pertamina jamin pasokan BBM di titik utama arus mudik
Rommy \
Manfaatkan helikopter, Menhub ingin arus mudik lancar
SP3 Rizieq akan ademkan suasana
Rizieq dan Sukmawati dapat “berkah” Idul Fitri
Tim unggulan yang tampil jeblok di laga perdana Piala Dunia
Liburan jadi tanda hubungan Anda dengan pasangan lebih bahagia
3 hal yang harus diwaspadai saat berlibur ke pantai
Gerombolan bersenjata Papua serang prajurit TNI
Jurus jitu hindari kemacetan saat liburan
Fetching news ...