Kenaikan bunga serap modal asing Rp6 triliun

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Kenaikan bunga serap modal asing Rp6 triliun

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah mengatakan modal asing masuk melalui Surat Berharga Negara sebesar Rp6 triliun setelah imbal hasil bergerak kompetitif menyusul kenaikan suku bunga "BI 7-Day Reverse Repo Rate" sebesar 50 basis poin pada 28-29 Juni 2018, kata Bank Sentral.

Nanang mengatakan dengan aliran modal asing yang masuk (capital inflow), imbal hasil SBN bertenor 10 tahun bergerak ke level 7,4 persen saat ini, setelah sebelumnya di 7,8 persen.

"Imbal hasil SBN Indonesia masih menarik, terbukti `inflow` sudah mulai ada," ujar dia di Jakarta, Rabu (11/12/2018).

Bank Sentral giat melakukan intervensi di pasar SBN untuk menjaga selisih antara obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun dengan imbal hasil SBN.

Stabilisasi di pasar SBN juga semakin gencar dilakukan menyusul perkembangan ekonomi dan arah kebijakan moneter AS yang rentan menimbulkan pembalikkan arus modal dari pasar keuangan di Indonesia.

"Kita jaga supaya domestik tetap menarik bagi investor asing," kata Nanang.

Namun, untuk di pasar saham, Nanang mengakui aliran modal asing yang masuk belum sederas seperti ke pasar SBN.

Menurut Nanang, Indonesia bersama negara-negara dengan potensi ekonomi yang terus bertumbuh (emerging market) saat ini menjadi sasaran para investor global. Namun modal yang masuk ke negara "emerging market" bukan hanya modal jangka panjang, melainkan juga modal jangka pendek yang rentan kembali ke nagara maju (hot money) saat terjadi perubahan arah kebijakan moneter global.

Maka, Indonesia perlu meningkatkan resiliensi ekonomi agar memiliki ketahahan ekonomi eksternal yang lebih kuat, dibanding negara-negara dengan kapasitas ekonomi setara (peers) seperti Turki, Argentina, Brazil dan lainnya.

Rupiah masih rentan depresiatif. Sejak awal tahun hingga 11 Juni 2018, rupiah melemah 5,3 persen (year to date/ytd).

"Kita tidak ingin membandingkan dengan negara lain tapi Argentina itu sudah 30 persen, Brasil sudah 17 persen, Turki sudah di atas 10 persen, India pun sudah di atas 7 persen," kata Nanang.

Bank Sentral, kata Nanang, akan terus bersikap antisipatif (pre emptive), menerapkan tingkat kebijakan moneter yang mendahului (ahead of the curve) untuk meredam dampak tekanan ekonomi global, terutama untuk menjaga stabilitas rupiah.

"Semua negara memang menaikkan suku bunga sekarang ini, karena likuiditas global lagi ketat. Jadi menaikkan suku bunga sebagai pencegahan," ujarnya.

Pertiwi deklarasi dukung Jokowi-Ma'ruf
Ini alasan mengapa harus puasa sebelum tes darah
Apakah pornografi mempengaruhi kualitas hubungan Anda dan pasangan?
Dituduh Megawati tak punya visi-misi, PKS: mustahil dong
Fahri Hamzah dorong pemuda keliling dunia
PKS usul kubu Prabowo-Sandi duduk bersama
PPP muktamar dukung Prabowo-Sandi
Fahri minta Prabowo tak kendor kritik Jokowi
KPK didesak periksa politisi PAN terkait percaloan anggaran daerah
Kubu Jokowi sebut tim ekonomi Prabowo lemah
Fahri Hamzah prihatin dengan kubu Prabowo
Ingin selamat, Parpol lain bisa tiru Demokrat
Kubu Jokowi: kita tak terjebak diksi kubu sebelah
Perindo nilai sosok Jokowi tak identik dengan PDIP
Parlemen Eropa minta AS batasi ekspor senjata ke Arab Saudi demi HAM
Fetching news ...