Prabowo perlu reuni 212 lagi jelang Pilpres 2019 jika ingin menang

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Prabowo perlu reuni 212 lagi jelang Pilpres 2019 jika ingin menang

Di tengah keberhasilan mengumpulkan massa dalam jumlah fantastis atas nama Reuni 212 pada Ahad 2 Desember lalu, kubu Prabowo memiliki satu lagi kesempatan untuk menggelar aksi serupa sebagai ajang unjuk kekuatan pada 21 Pebruari mendatang.

Reuni 212 memang belum tentu berdampak elektoral karena mengubah haluan pemilih itu sangat sulit. Lagipula, massa yang datang adalah orang yang sama. Survei juga tidak menunjukkan adanya peningkatan suara akibat aksi tersebut. Hal ini yang diyakini oleh Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf.

Akan tetapi, yang patut dicermati, gelaran Reuni 212 (jika Badan Pemenangan Nasional menggelarnya kembali) adalah pengkondisian secara psikologis bahwa koalisi Prabowo-Sandi sangat solid dan kompak. Saya yakin koalisi Jokowi-Ma’ruf tak akan mampu mengerahkan massa sebanyak itu.

Pengkondisian tersebut memang tidak akan membuat pemilih berubah pikiran, akan tetapi akan menghembuskan angin pesimisme di kalangan pendukung Jokowi. Dampaknya adalah mereka tidak mendatangi tempat pemungutan suara (TPS).

Sejak awal hingga beberapa survei terakhir, calon petahana Joko Widodo yang berpasangan dengan Ma’ruf Amin selalu mengungguli pasangan Prabowo-Sandiaga. Sejumlah lembaga riset kenamaan seperti Indikator, Populi Center, Kompas, dan Alvara Research Center menempatkan Jokowi-Ma’ruf dengan elektabilitas di atas 50%, sementara Prabowo-Sandi hanya di atas 30%. Berdasarkan hitung-hitungan survei tersebut, seandainya seluruh pemilih yang masih ragu-ragu di kemudian hari memilih Prabowo sekali pun, Jokowi tetap akan memenangkan pemilu.

Jadi, satu-satunya yang dapat melenyapkan kemenangan Jokowi adalah para pemilihnya tidak mendatangi TPS, entah karena sibuk pelesir, sudah optimistis bakal menang, atau malah karena ragu-ragu Jokowi bakal menang karena melihat banyaknya konsentrasi pendukung Prabowo di Jakarta.

Kita dapat berkaca pada fenomena Pilpres 2016 di Amerika Serikat. Salah satu sebab utama kekalahan Hillary Clinton pada pemilu melawan Trump adalah partisipasi yang rendah dari pemilih Demokrat, khususnya dari generasi milenial dan kelompok minoritas. Hillary dalam banyak survei selalu mengungguli Trump. Dia hanya kalah di survei hitung cepat di hari pencoblosan, yang berarti kekalahan pada kontestasi sesungguhnya.

Maka, cukup beralasan jika tidak banyak media—yang dekat dengan koalisi Jokowi—tidak begitu tertarik memberitakan pengerahan massa pendukung Prabowo-Sandi. Hal ini yang kemudian membuat Prabowo mencak-mencak sambil menuduh media tidak netral dalam pemberitaan—tudingan yang sebetulnya tidak akan menguntungkan bagi citranya.

Peneliti Stanford University, Steve Rathje mengatakan bahwa orang sekitar sangat efektif untuk memberikan pengaruh terhadap yang lain, bukan melulu soal berpindahnya pilihan, tetapi mendatangi TPS atau tidak.

Pada Pemilu 2014 angka partisipasi masyarakat pada Pilpres hanya 69,58 persen. Bagaimana jika pendukung Jokowi yang hadir di TPS hanya di angka 70% sementara pendukung Prabowo 100%? Peluang inilah yang dapat dimanfaatkan oleh koalisi Prabowo-Sandi, dan salah satunya adalah pengerahan massa.

Oleh karena itu, Badan Pemenangan Nasional (BPN) sangat mungkin akan kembali menggelar Reuni 212 di bulan Pebruari. Meskipun pengerahan seperti itu berbiaya besar, di saat mereka mengaku cekak uang saku, aksi harus terjadi jika mereka serius ingin menang.

Jika Reuni 212 bulan Pebruari digelar, meskipun sedikit di luar konteks, dampaknya akan lebih besar secara elektoral daripada reuni bulan Desember lalu, dan tentunya bisa jadi lebih murah daripada biaya iklan di TV karena mereka dapat sekalian memungut donasi dari peserta reuni.

https://www.youtube.com/watch?v=ZDvZ-QBnsFI&t=5s

 

Jokowi pilih kostum khusus saat debat dengan Prabowo
Demokrat nilai pembentukan TGPF Novel sarat kepentingan politik Jokowi
Fahri Hamzah: Debat pilpres jangan seperti lomba cerdas cermat
Jelang debat, Zulkifli Hasan sarankan Prabowo-Sandi santai-santai
Rizal Ramli tak percaya lembaga survei
Ignasius Jonan mangkir, DPR kecewa
Anggota DPR banyak tak lapor harta kekayaan, ini kata sang Ketua
Polemik pembangunan tol, Fahri Hamzah: itu tol punya swasta
TKN pertimbangkan gelar pidato kebangsaan ala Jokowi
Arus modal masuk berpotensi buat IHSG naik hari ini
Kemendikbud tak ingin ada sekolah favorit
Ini tiga ciri pemerintahan Jokowi otoriter menurut Amien Rais
 Lagu Jogja Istimewa dijiplak pendukung Prabowo, Ini respons Kubu Jokowi
PKS nilai pidato Prabowo tepis anggapan pesimisme
Kubu Prabowo minta KPK periksa Tjahjo Kumolo terkait kasus Meikarta
Fetching news ...