Cinta tanpa komitmen

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Cinta tanpa komitmen

Ketika membicarakan cinta, tanyaan apakah cinta bisa dibangun tanpa komitmen kerap mengemuka. Karena cinta yang sehat adalah hasil dari keputusan dengan tujuan untuk menumbuhkembangkan spiritualitas, jawaban dari tanyaan tersebut adalah “TIDAK” (dengan huruf besar).

Memang bukan satu-satunya jaminan hubungan cinta seseorang bakal berhasil, akan tetapi komitmen adalah faktor yang paling menentukan. Erik Erikson (1963,1968) menyebutkan bahwa komitmen adalah tahap lanjut dari krisis identitas yang akan dialami seseorang dengan rentang usia (18-29), tergantung pada tingkat pendidikan formal, ekonomi dan didikan di keluarga.

Setelah melewati fase itu, orang seharusnya berada pada level komitmen, yaitu kelarasan antara apa yang diyakini dan dilakukan. Orang yang memiliki komitmen akan mengejahwantakan apa yang ada di kepalanya ke dalam tuturan dan tindakan. Hanya orang-orang pada level inilah yang dapat secara sadar menjalin hubungan dengan cara menaruh perhatian pada pertumbuhan spiritual masing-masing individu yang terlibat dalam hubungan tersebut.

Mereka yang masih pada tahap gagap peran (role confusion) akan gagu pula memaknai cinta. Jadi, mencintai adalah urusan orang yang mampu memperluas kesadaran yang menjadi tujuan dari hidup, atau dengan kata lain dewasa secara psikologis, bukan sekadar dewasa secara fisik dan seksual.   

Masalah komitmen menjadi salah satu gangguan psikologis utama dalam ruang-ruang konseling. Seseorang yang divonis memiliki masalah kepribadian pasti memiliki tingkat komitmen yang rendah. Tambah akut masalah kepribadian seseorang, tambah jauh kapasitasnya dalam membuat komitmen.

Mirip-mirip cinta yang bersumber dari orang tua, anak-anak yang tumbuh bersama orang tua yang tidak memiliki komitmen bakal kesulitan memahami komitmen karena bagi mereka komitmen dianggap konsep yang abstrak. Anak-anak ini tidak tumbuh bersama dan mengalami secara langsung bentuk komitmen dari orang tua mereka.

Orang yang mafhum bahwa apa yang dilakukannya tidak baik tetapi tetap melakukannya adalah contoh orang yang tidak komitmen. Suatu hari di sebuah parkiran instansi milik pemerintah, saya berbincang dengan seorang tukang parkir berusia sekitar 40 tahun, yang sudah sekitar tujuh bulan menjaga tempat parkir dengan penghasilan rata-rata Rp2,5 juta sebulan.

Dia mengaku sebelumnya bekerja sebagai sopir truk di sebuah perusahaan pengiriman selama beberapa tahun. Kala dia berhenti, sepupunya menawarkan menjadi pengemudi transportasi online. Akan tetapi, dia mengaku tak tertarik meskipun menjadi tukang parkir yang berafiliasi dengan salah satu ormas itu tidak memberikan gambaran masa depan ekonomi yang jelas, baik bagi dia sendiri maupun keluarga.

“Saya gak suka tanggung jawab,” katanya ringkas sambil tersenyum. Orang ini lebih tepatnya tidak mampu membuat komitmen untuk membantu dirinya bermartabat. Jika terhadap diri sendiri gagu dalam berkomitmen, orang akan sulit memegang komitmen bersama orang lain.

Orang yang memiliki penyakit komitmen tidak akan sembuh dengan mantra dan beberapa bait kata. Oleh sebab itu, orang tipe ini sebaiknya tidak Anda masukkan dalam daftar orang yang hendak Anda nikahi. Orang ini jika mengumbar kata-kata cinta, pastinya palsu belaka.

Morgan Scott Peck (1978: 145) menyebut salah satu ciri orang yang bakal sulit berkomitmen adalah pengidap sindrom “Aku akan meninggalkan kamu sebelum kamu tinggalkan aku”, yang diekspresikan secara sadar atau tidak dan dalam berbagai bentuk-bentuk lain yang tersamar.

Ungkapan lain yang mirip adalah “Aku akan sangat baik jika diperlakukan baik; tapi jika macam-macam, siap-siap saja dengan akibatnya.” Makna terdalam dari ujaran ini adalah bahwa sang penutur tidak memberikan ruang maaf dalam sebuah hubungan. Orang pasti sadar bahwa tidak ada hubungan tanpa maaf. Satu sisi dia ingin menjalin hubungan, di sisi lain dia tidak memiliki komitmen untuk memeliharanya jika terjadi konflik.

Rizal Ramli sebut mobil Esemka alat politik Jokowi
Rizal Ramli: Jokowi impor pangan ugal-ugalan
Pidato Prabowo disebut klise, BPN samakan Prabowo dengan Bung Karno
Amerika Serikat rugi Rp38 triliun
Sempat ditolak, Prabowo akhirnya shalat jumat
Kedengkian terhadap mantan picu impotensi
TKN: Jokowi sudah persiapkan jurus hadapi debat kedua
PSI minta kubu Prabowo klarifikasi soal tudingan Jokowi pakai konsultan asing
Kubu Jokowi nilai Prabowo cari panggung
TKN nilai tak masalah menteri bantu Jokowi susun materi debat
Simulasi Prabowo menang di 12 daerah dinilai hanya kipasan angin surga
Aktivis lingkungan nilai Jokowi komitmen kelola SDA untuk rakyat
Gubernur Enembe tak bersalah, warga Papua desak KPK minta maaf
PSI nilai manuver politik oposisi soal tudingan konsultan asing terlalu bodoh
Kubu Jokowi: Kemenangan di Jawa Barat jadi barometer suara nasional
Fetching news ...