Gibran harus segera cari guru bahasa tubuh

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Gibran harus segera cari guru bahasa tubuh Gibran Rakabuming Raka (30) bersama orang tua (Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana)

Penulis Inggris Deborah Bull (53) mengatakan bahwa 80% apa yang kita pahami dalam sebuah percakapan terbaca dari bahasa tubuh, bukan kosakata. Jadi ingatlah bahwa setiap saat kita bicara dalam dua bahasa, yakni bahasa lisan dan bahasa tubuh. “Tubuh tak pernah bohong,” kata koreografer kenamaan Martha Graham (1894-1991).

Oleh karena itu, memperhatikan bahasa tubuh harus dikedepankan, selain tentu saja bahasa lisan. Bahasa tubuh yang dimaksud di sini adalah lenggak-lenggok dan pose badan, gerak kepala, tangan, isyarat jari, mata dan semua gerak tubuh (kinesik). Semua gestur tersebut adalah tanda yang mengindikasikan makna tertentu.

Bahasa tubuh biasa digunakan untuk memberikan tekanan atau emosi pada bahasa verbal. Namun, bahasa tubuh juga bisa menjadi pengganti absennya bahasa lisan itu sendiri. Bahkan, dalam banyak kasus, bahasa tubuh dapat memberikan informasi yang lebih valid daripada verbalisasi yang disampaikan oleh seorang penutur, sebagaimana kata Deborah di atas.

Pesan yang disampaikan bahasa lisan dapat saja berlawanan dengan informasi yang dibawa bahasa tubuh. Tak heran jika ahli bahasa tubuh sering didatangkan polisi untuk membantu mendeteksi kebohongan dalam proses pengadilan.

Profesor psikologi sosial dari Harvard, Amy Cuddy (lahir 1972), mengatakan jika bahasa tubuhlah yang menentukan siapa sebenarnya kita. Artinya, informasi yang kita sampaikan lewat bahasa tubuh jauh lebih terpercaya ketimbang bahasa lisan, apalagi bahasa tulis. “Jika ingin berubah, mulailah lewat gerak tubuh,” katanya dalam sebuah kuliah di Ted Talk, yang mengisyaratkan signifikansi bahasa tubuh.

Sayang, tak sedikit orang yang cenderung mengabaikan atau menyepelekan bahasa tubuh ini. Barangkali, putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka (30) termasuk dalam hal ini saat bertemu dengan putra sulung mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Agus Harimurti Yudhoyono, kemarin.

Bahasa tubuh Gibran perlu perbaikan

Kinesik Gibran menjadi perhatian banyak orang. Netizen secara umum menilai gaya Gibran “sengak” dan kurang adat.

Apabila kita cermati dari video yang banyak beredar, baik di TV maupun media sosial, beberapa bahasa tubuh Gibran memang sepatutnya diperbaiki.

Posisi dagu dan kepala

Gibran dalam beberapa menit perbincangan dengan Agus memang terlalu sering mendongakkan dagu sambil beberapa kali menjauhkan kepala dari Agus. Mudah dibaca bahwa gerakan ini hanya menunjukkan keangkuhan dan keinginan untuk menjaga jarak. Gerakan ini adalah yang paling fatal, sehingga banyak orang menilai gaya dia sengak.

Posisi siku

Dalam beberapa kesempatan saat mendengarkan obrolan Agus, kedua tangan Gibran diletakkan di atas pahanya yang terbuka dengan posisi siku menjauh dari badan. Ini adalah sinyal kuasa, sama seperti orang berkacak pinggang jika berdiri. Tentu saja, ketika di awal pembicaraan bilang ke Agus “santai saja ya, mas”, sejatinya Gibran tidak dalam posisi santai. Dia ingin menunjukkan bahwa "sayalah tuan rumahnya, saya berkuasa." Orang pasti bisa membaca ini.

 

Tapak tangan

Saat sedang mendengarkan Agus bicara, Gibran sesekali merapatkan dan mengosok-gosokkan tangan. Hanya orang yang dilanda kecemasan dan keterasingan yang biasa melakukan gerakan tersebut. Kita tidak tahu apa yang Gibran kuatirkan, apakah karena sudah terlalu lama di depan kamera atau terintimidasi oleh gaya bicara Agus yang berwibawa, tetapi bahasa tubuhnya terlalu jelas untuk mengarah ke hal itu.

Lengan

Dalam rekaman, Gibran tampak melipat lengan di dada saat Agus biacra. Bahasa tubuh ini menunjukkan ketertutupan dan pertahanan diri. Orang pada posisi ini tidak siap untuk menerima pendapat orang lain.

Kaki

Jika Anda amati, beberapa kali Gibran tampak terlalu lebar membuka kaki. Lutut yang saling berjauhan mengindikasikan dia terlalu dalam posisi santai. Seharusnya, dalam pertemuan semi formal seperti itu, Gibran tetap bisa mengendalikan diri karena dia berada dalam sorotan banyak orang.

Kedua, saat Agus bicara, kaki kanan Gibran tampak digerak-gerakkan naik turun seperti sedang mengoperasikan mesin jahit tempo dulu. Gerakan mengayun kaki seperti ini hanya dilakukan oleh orang yang sedang dilanda kebosanan. Tak sepatutnya gerakan ini muncul saat sedang bertemu orang-orang tertentu, apalagi sedang diawasi kamera.

Badan

Ada momentum ketika tangan kanan Agus menyentuh pundak Gibran. Usai sentuhan tersebut, Gibran mencondongkan tubuhnya menjauh dari Agus. Posisi ini tentu menunjukkan keengganan untuk didekati.

Kita tidak mengetahui pasti apakah gestur Gibran tersebut by design, untuk menunjukkan siapa dia sebenarnya di hadapan Agus. Apabila memang disengaja, tentu itu pilihannya. Akan tetapi, jika Gibran melakukannya tanpa kesengajaan, dia harus segera mencari guru atau konsultan bahasa tubuh untuk belajar bagaimana seharusnya seorang public figure bersikap di depan khalayak.

Hentikan konflik horizontal nelayan
Tifatul lebih khusyuk ke Jokowi daripada Allah
Pengelolaan kesan pada pakaian adat Jokowi
Yang luput dari pidato Jokowi
Paimo, berpetualang ke ujung Benua Amerika dengan sepeda
Fetching news ...