Readup

Melakukan transformasi diri seperti kupu-kupu

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Melakukan transformasi diri seperti kupu-kupu "Lebih tinggi seseorang menghargai dirinya, akan semakin banyak elemen positif yang ada dalam dirinya." - Ren-Jou Liu

Keindahan kupu-kupu membuat kita lupa bahwa mereka dulunya hanya seekor ulat yang lemah, menjijikan, dan ditakuti banyak orang. Begitupun orang-orang yang telah berhasil mengalami transformasi diri dan pencerahan; kita tak banyak tahu cerita kelam, tragedi, dan perjuangan yang telah mereka lakukan.

 

Cerita para “ulat” yang kini telah bertransformasi menjadi pegiat perdamaian dan rekonsiliasi keluarga didokumentasikan secara apik dalam buku “Butterfly Actually”. Di dalam buku ini, setiap dari mereka harus berkonfrontasi dengan sejarah pribadinya semasa menjadi ulat: mempertanyakan ulang dirinya, membongkar identitasnya, membuka berbagai luka masa lalunya, mengorek-ngoreknya, membersihkannya, dan menutupnya kembali untuk mendapatkan kesembuhan yang sempurna, dengan menjadi pribadi yang indah, penuh maaf dan bijaksana, serta penebar kedamaian bagi semesta.

 

Banyak orang merasa hidupnya penuh dengan masalah; pernikahan yang tidak bahagia, keluarga yang berantakan, mimpi yang tidak terealisasi dan banyak ketidakmapuan secara fisik. Hidup ini dianggap sangat kejam, sakit, tanpa tujuan, tidak bermakna.

Mereka bertanya: “Kenapa hidupku seperti ini? Bisakah saya keluar dari semua masalah ini?”

Dalam pengantarnya, Ren-Jou Liu, pakar keluarga asal Taiwan, mengatakan bahwa kebahagiaan seseorang tergantung pada harga diri “self-esteem” dalam dirinya. Lebih tinggi seseorang menghargai dirinya, akan semakin banyak elemen positif yang ada dalam dirinya. Seperti optimisme, motivasi, kecerdasan emosional (emotional intelligence), kemampuan melihat kedalam dirinya, kedewasaan, keberaniaan menghadapi masalah dan kemampuan memecahkan masalah. Kalau sudah mempunyai itu semua, hidup seperti terasa indah dan bahagia. Sebaliknya, jika seseorang mempunyai penghargaan diri yang rendah (low self-esteem), kebalikannya,  perasaan senang dan bahagia  itu tidak akan ada.

Salah satu faktor yang jelas pada “self-esteem” seseorang datang dari pola asuh yang diterima dari “yang mengasuh” pertama kali ketika masih anak-anak – yang sering kali ini berpusat dari bagaimana kehidupan orang tuanya. Orang tua yang mempunyai penghargaan diri yang rendah (low self-esteem) akan lebih keras dan ekstrim, ketat terhadap prilaku anak-anak, tidak memperdulikan perasaan dan kebutuhan mereka, menuntut kepatuhan yang mutlak pada nilai dan sikap mereka (yang biasa dengan  pecut/pukulan kayu). Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang demikian mungkin akan sopan, lembut/penurut, patuh, bahkan sangat berprilaku yang baik di sekolah, tapi batasan-batasan sikap dia (anak) akan kabur (tidak jelas) dan menyimpang. Seperti anak yang tumbuh lebih menjadi anak yang sombong dan “self-centered person”, atau sebaliknya, menjadi penyenang orang lain dengan perasaan yang sangat rendah.

Pada masa awal anak-anak, anak belajar menekan dirinya sendiri untuk memenuhi orang tua yang bersikap “menindas” atau “harus patuh” dengan mematuhi atau menyesuaikan dengan harapan-harapan orang tuanya. Sebagai hasilnya, banyak potensi dan kemampuan mereka (anak-anak) seakan terkunci. Sehingga wajar kalau mereka merasa hidupnya tidak berharga, tidak ada kekuatan apa pun pada masa depannya mereka. Sebaliknya, kalau anak-anak bisa atau berani mengungkapkan perasaan dan kebutuhannya, atas nama sebuah “nilai”, penghargaan dan hak dan bisa berkomunikasi dengan orang tuanya dengan baik, maka kehidupan nanti akan berbeda atau lebih baik.

Kita tidak bisa meminta orang lain untuk memulai semuanya, tapi kita bisa mengubah persepsi kita dan pemahaman kita tentang masa lalu kita dan mengizinkan kita untuk melepaskan dan membuka energi dan potensi kita sekarang.

Buku “Butterfly Actually” adalah kumpulan sejumlah ungkapan perasaan masa lalu selama pengasuhan oleh sejumlah peserta Sekolah Rekonsiliasi. Melalui buku tersebut, kita dapat belajar untuk melakukan penyembuhan dengan mempraktikkan apa yang sudah dilakukan para penulis.

Menurut Ren-Jou Liu, yang sudah menjadi konsultan rekonsiliasi keluarga selama tiga puluh tahun ini, tulisan yang berisi ungkapakan perasaan kita tentang orang tua adalah cara sederhana namun efektif untuk melakukan proses penyembuhan luka-luka di masa lalu. Tulisan atau surat tersebut bukan untuk mengutuk, menyalahkan atau mengkritik, tetapi untuk mengungkapkan perasaan depresi dan kebutuhan kita.

Kita semua memiliki pengalaman yang tak terlupakan di masa kita diasuh, dan pada beberapa kesempatan ketika momen tidak bahagia tersebut muncul kembali ke dalam ingatan kita, hati kita sakit. Kita mungkin merasa tertekan, tidak berharga, marah, atau takut. Ketika kita kecil, kita tidak memiliki kesempatan, juga kita tidak punya  keberanian untuk memberitahu orang tua kita. Sekarang, sebagai seorang yang dewasa, kita telah belajar menyeimbangkan antara menghormati orang lain dan menghargai kebutuhan kita, dan tahu bagaimana berbicara dengan hormat, tanpa meremehkan diri kita sendiri. Dengan menulis surat, kita membantu diri kita sendiri untuk mengekspresikan apa saja yang seharusnya dulu kita ungkapkan ketika kita masih anak-anak.

Menurutnya, kita tidak perlu untuk benar-benar mengirim surat itu kepada orang tua. Kita bisa hanya menaruhnya di meja kerja kita. Dia menyarankan menulis lima surat kepada masing-masing orang tua dan menulis satu surat setiap beberapa hari selama sekitar 40 sampai 60 menit. Bila telah selesai menulis surat-surat, dia menyarankan kita berbagi dengan orang yang dipercaya—yang mungkin pasangan, anak yang sudah dewasa, atau teman baik. Bacalah surat-surat di hadapan orang-orang yang dapat memberikan respons.

Setelah menulis 10 surat, tanyakan ke diri kita: “Apakah saya merasa lebih baik, apakah saya punya hubungan yang lebih baik dengan orang lain, apakah saya bekerja lebih efektif, dan apakah saya lebih bisa menyelesaikan masalah?”

Menurut Ren-Jou Liu, jika Anda telah membuat perubahan yang signifikan, cobalah menulis surat lebih banyak lagi ke orang tua Anda dalam beberapa minggu sampai dua bulan. Anda akan segera menemukan aliran energi berjalan dalam diri sendiri, menguatkan Anda untuk menjalani hidup yang penuh warna dan semangat, dan Anda akan memiliki kemampuan untuk membuat kontribusi berpengaruh pada orang lain dalam semua yang Anda lakukan.

Gaya kepimpinan Jokowi di mata menterinya
Jenis korupsi paling digemari kepala daerah
Pemerintah kenakan pajak barang tak berwujud tahun depan
Harapan Sri Sultan HB X ke advokat
Pinisi yang jadi warisan Unesco
Fetching news ...